KOTA PANGKALPINANG

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
 
Home Pangkalpinang Benda Cagar Budaya
E-mail Cetak PDF

 

RUMAH SAKIT BAKTI TIMAH/RS. PUSAT BTW

 

 

Nama
:
  Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang/RS. Pusat BTW
Jenis
:
  Bangunan
Periode/Tahun
:
  Kolonial/1920
Keletakan
:
 
Jalan
:
  Jalan Jenderal Sudirman No.2
Dusun/Kampung
:
  -
Desa/Kelurahan
:
  Batin Tikal
Kecamatan
:
  Tamansari
Kabupaten/Kota
:
  Kota Pangkalpinang
Provinsi
:
  Kepulauan Bangka Belitung
Letak Astronomis
:
  02° 06' 52" LS dan 106° 06' 42" BT (48 M 0623639 mU - 9766219 mT)

Latar Sejarah

       Sejak kepindahan Ibukota Karesidenan Bangka dari Mentok ke Pangkalpinang oleh Belanda pada tahun 1913 menjadikan kota Pangkalpinang sebagai pusat penambangan Timah di Bangka dan pusat pemerintahan. Komplek Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang, dibangun pada masa Residen Dournik pada tahun 1920. Bangunan ini berawal dari sebuah Balai Pengobatan yang didirikan oleh Perusahaan Pertambangan Hindia Belanda Banka Tin Winning Bedrif (BTW) sckitar tahun 1900 yang diperuntukan khusus bagi karyawan perusahaan tersebut. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, tahun 1953 perusahaan tersebut dinasionalisasi oleh pemerintah Rl dan menjadi Perusahaan Milik Negara pada tahun 1969 Balai pengobatan ini terus berkembang dan menjadi bagian dari unit usaha PT. Tambang Timah.
 
Deskripsi
 
       Rumah sakit Bakti Timah Pangkalpinang, saat ini sudah mengalami perluasaan dan perubahan disesuaikan dengan kebutuhan untuk meningkatkan pelayanaan kepada masyarakat. Bangunan lama yang dahulu sebagai Balai pengobatan sampai kini masih terawat dengan baik, bentuk bangunan berdenah empat persegi panjang, berlantai dua. Bangunan berbentuk segi enam. Lantai bawah dilapisi tegel hitam/abu dan lantai atas terbuat dari kayu. Atap terbuat seng, bentuk atap limas, dinding dari bata, dilengkapi dengan pintu dan jendela kaca.
 
Luas Bangunan
:
 12,6 m x 23,5 m
Luas Lahan
:
 4.600 m2
Status Pemilikan
:
 Yayasan Bakti Timah
Status Pengelola
:
 Rumah Sakit Bakti Timah
Batas-Batas
  
Utara
:
 Koperasi Rumah Sakit Bakti Timah
Timur
:
 Jalan Jenderal Sudirman
Selatan
:
 Komplek RS. Bakti Timah (Kantor Usaha Bersama)
Barat:
 Komplek RS. Bakti Timah
Riwayat Penelitian
:
 Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang, 2005

 

WISMA TIMAH I

 

 

Nama
:
  Wisma Timah I
Jenis
:
  Rumah
Periode/Tahun
:
  Kolonial/abad 20
Keletakan
:
 
Jalan
:
  Jalan Jenderal Sudirman No.20
Dusun/Kampung
:
  -
Desa/Kelurahan
:
  Tamansari
Kecamatan
:
  Tamansari
Kabupaten/Kota
:
  Kota Pangkalpinang
Provinsi
:
  Kepulauan Bangka Belitung
Letak Astronomis
:
  02° 07' 14" LS dan 106° 06' 46" BT
 
Latar Sejarah

       Pada tahun 1813 Inggris (East India Company) menjadikan Pangkalpinang sebagai salah satu Distrik dari Distrik eksplorasi timah produktif disamping Jebus, Klabat, Sungailiat, Merawang, Toboali dan Belinyu, sejak itu Pangkalpinang mulai dikenal sebagai kota Timah serta kota pusat perdagangan dan jasa di Pulau Bangka Pada tahun 1913, Pemerintah  Belanda  memindahkan Ibukota Karesidenan Bangka dari  Menthok  ke Pangkalpinang, dengan kepindahan tersebut menjadikan kota Pangkapinang sebagai pusat penanbangan timah di Bangka dan pusat Administrasi negeri (bestuur). Wisma Timah I pada awalnya adalah ruman dinas pejabat Banka Tin Winning Bedriff (BTW), setelah ibukota Karesidenan Bangsa pindah ke Pangkalpinang. Saat ini Bangunan ini dimanfaatkan sebagai hotel/penginapan tamu-tamu, baik hotel/penginapan dari PT. Timah maupun masyarakat umum.
 
Deskripsi

       Bangunan satu lantai, dengan atap berbentuk limas, dinding bata, lantai tegel kuning bermotif. Pintu dan jendela dibuat dari kayu dan kaca bangunan utama memiliki satu ruang tamu, ruang keluarga dan empat kamar tidur (satu kamar tidur utama). Dapur dan bangunan untuk kamar pembantu/sopir terpisah dari bangunan utama dihubungan selasar. Kondisi bangunan terawat dengan baik, belum banyak perubahan, kecuali penambahan ruang penerima tamu pada bangunan kamar pembantu dan sopir sebagai fasilitas tambahan penginapan.
 
Luas Bangunan
:
 1.292 m²
Luas Lahan
:
 2.829 m²
Status Pemilikan
:
 PT. Timah
Status Pengelola
:
 PT. Griya Mandiri
Batas-Batas
  
Utara
:
 Jalan Hamidah
Timur
:
 Jalan Jenderal Sudirman
Selatan
:
 Perumahan PT Timah
Barat:
 Perumahan PT Timah
Riwayat Penelitian
:
 -

 

MUSEUM TIMAH INDONESIA

 

 

Nama
:
  Museum Timah Indonesia
Jenis
:
   Museum
Periode/Tahun
:
   Abad 20
Keletakan
:
 
Jalan
:
  Jalan Jenderal Ahmad Yani No.179
Dusun/Kampung
:
  -
Desa/Kelurahan
:
  Batin Tikal
Kecamatan
:
  Gerunggang
Kabupaten/Kota
:
  Kota Pangkalpinang
Provinsi
:
  Kepulauan Bangka Belitung
Letak Astronomis
:
   02°07'14" IS - 106° 06' 35" BT (48 M 0623391 mU - 9765815 mT)

Latar Sejarah

       Gedung milik BTW ini pernah menjadi tempat Bung Karno dan para pemimpin Rl dalam pengasingan. Gedung ini pernah dijadikan tempat perundingan pra Roem-Royen oleh tokoh-tokoh penting, di antaranya Ir. Soekarno, Haji Agus Salim, dan pemimpin-pemimpin Indonesia yang diasingkan di Bangka. Awalnya perundingan dilangsungkan di Bukit Menumbing, Mentok lalu dipindahkan ke Pangkalpinang (kini menjadi Museum Timah) karena perundingan juga dihadiri pejabat Komisi Tiga Negara (KTN) yang kemudian namanya diganti menjadi Komisi Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Indonesia (UNCI/L/United Nations Cornmision for Indonesia).

Deskripsi

       Gedung Milik BTW saat ini difungsikan sebagai Museum Timah, dulunya berupa rumah dengan beberapa kamar di dalammya. Bangunan yang bertuliskan Househill di atas teras pintu masuk ini dulunya tampak mewah dan artistik. Namun kini telah banyak berubah, kamar-kamar telah dihilangkan menjadi ruang-ruang tanpa sekat guna menyimpam koleksi museum. Begitu pula dengan pintu masuk teras depan yang berbahan bata, kini telah diubah menjadi dinding manner. Museum Timah menyimpan koleksi peninggalan sejarah khususnya sejarah penambanqan timah di Pulau Bangka Belitung, dimulai sejak Kesultanan Palembang abad 16 M.
 
Luas Bangunan
:
 -
Luas Lahan
:
 -
Status Pemilikan
:
 PT. Timah Tbk. Pangkalpinang
Status Pengelola
:
 -
Batas-Batas
  
Utara
:
 Jalan Depati Amir
Timur
:
 Jalan Jenderal Sudirman
Selatan
:
 Perumahan PT Timah
Barat:
 Perumahan PT Timah
Riwayat Penelitian
:
 Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang,  2005

 

RUMAH RESIDEN

 





Nama
:
 Rumah Residen
Jenis
:
 Rumah
Periode/Tahun
:
 Sebelum tahun 1913
Keletakan
:
 
Jalan
:
 Jalan Merdeka No.1
Dusun/Kampung
:
  -
Desa/Kelurahan
:
 Batin Tikal
Kecamatan
:
 Tamansari
Kabupaten/Kota
:
 Kota Pangkalpinang
Provinsi
:
 Kepulauan Bangka Belitung
Letak Astronomis
:
 02°07'14" LS - 106° 06' 46" BT (48 M 0624805 mU - 9765577 mT)

Latar Sejarah

       Pada tahun 1813 Inggns (East India Company) menjadikan Pangkalpinang sebagai salah satu Distrik dari tujuh distrik ekplorasi timah produktif disamping Jebus, Klabat, Sungailiat, Merawang, Toboali, dan Belinyu. Sejak itu, Pangkalpinang mulai dikenal sebagai kota timah serta kota pusat perdagangan dan jasa di Pulau Bangka. Dalam sejarah penambangan timah, Kota Pangkalpinang memiliki arti penting, sebab pada tahun 1913, Belanda memindahkan Ibukota Karesidenan Bangka dari Mentck ke Pangkalpinang, Kepindahan tersehut menjadikan Kota Pangkalpinang sebagai pusat penambangan timah di Bangka dan pusat administrasi negeri (bestuur). Bangunan ini pada mulanya ditempati oleh Controleur R.J. Koppenol sampai dengan tahun 1913 dan mulai difungsikan sebagai kediaman Residen Bangka Pertama yang berpusat di Pangkalpinang, A J.N Engelenberg (1913-1918) setelah Ibukota Keresidenan Bangka di pindahkan ke Pangkalpinang. Kini Rumah Residen dijadikan Rumah Dinae Walikota Pangkalpinang.

Deskripsi

       Bangunan megah ini terletak di pusat Kota Pangkalpinang, tepatnya berada pada titik nol kilometer pulau Bangka. Masyarakat Bangka menyebutnya sebagai rumah besar karena rumahnya besar dan kokoh, memiliki 10 pilar, jendela dan pintu tinggi, dengan atap limasan, dan atapnya dari genteng tanah. Bangunan khas arsitektur Eropa ini ditandai dengan pilar-pilar yang tinggi dan besar, pintu tinggi, dan jendela berjumlah banyak sebagai media sirkulasi udara. Rumah Residen terdiri dari dua bangunan inti pada sisi kanan dan kiri yang menyambung. Di halaman depan terdapat tiang bendera, dua buah meriam, dan kolam teratai yang dihiasi mangkok teratai di atasnya terdapat patung ikan. Di samping Rumah Residen dibangun pula kantor Karesidenan (bekas kantor sementara Gubernur), gedung pertemuan (Panti Wangka sekarang), kantor Polisi (Opas), penjara, dan sarana lainnya seperti alun-alun (Lapangan Merdeka), jalan raya, dan Wilhelmina Park (sekarang Tamansari) dengan arsitek Van Ben Benzehoren. Semua fasilitas tersebut merupakan satu kesatuan yang saling mendukung.
 
Luas Bangunan
:
305 m²
Luas Lahan
:
7.656,3 m² (87,5 x 87,5 m²)
Status Pemilikan
:
Pemerintah Kota Pangkalpinang
Status Pengelola
:
Sekretariat Daerah Kota Pangkalpinang
Batas-Batas
  
Utara
:
Perpustakaan Kota Pangkalpinang
Timur
:
Jalan Jenderal Sudirman
Selatan
:
Jalan Merdeka, Lapangan Merdeka
Barat:
Tamansari
Riwayat Penelitian
:
Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang, 2005


MENARA AIR MINUM





Kolonial/1927Nama
:
 Menara Air Minum
Jenis
:
 Bangunan
Periode/Tahun
:
 Kolonial/1927
Keletakan
  
Jalan
:
 Anggrek
Dusun/Kampung
:
 Komplek Perumahan PT Timah Bukit Baru
Desa/Kelurahan
:
 Bukit Baru
Kecamatan
:
 Gerunggang
Kabupaten/Kota
:
 Kota Pangkalpinang
Provinsi
:
 Kepulauan Bangka Belitung
Letak Astronomis
:
 02° 06' 49" LS dan 106° 06' 26" BT (48 M 0623142 mil - 9766332 mT)

Latar Sejarah

       Menara Air minum ini dibuat Belanda pada masa pemerintahan J.E Edie sebagai Residen Bangka, yang memerintah wilayah tersebut sejak lahun 1925. Beliau mulai melakukan penelitian mencari sumber baku air bersih untuk masyarakat Pangkalpinang yang pembangunnya direalisasikan pada tahun 1927, Bangunan ini terletak di Bukit Mangkol, yang saat ini berada di sekitar Kompleks Perumahan PT Tirnah Bukit Baru Instalasi air minum ini melayani 11.970 pelanggan di Kota Pangkalpinang pada waktu itu. Kini menara air sudah tidak dimanfaatkan dan sudah dibangun menara air yang baru.
 
 
Deskripsi

       Bangunan menara air minum menyerupai dua buah tangki raksasa yang ditopang oleh instlasi bangunan yang didalamnya terdapat pipa-pipa besar yang berfungsi untuk menyalurkan air keseluruh rumah masyarakat Pangkalpinang. Menara ini dibatasi oleh tembok pembatas berupa pathok/tugu sebanyak 6 buah, masing-masing setinggi satu meter, terbuat dari campuran batu kali dan pasir kuarsa. Pathok dibuat sebagai pembatas antara tanah milik pengelola menara air dengan Kompiek Perumahan PT. Timah Bukit Baru yang merupakan perumahan elit waktu itu.
 
Luas Bangunan
:
12,6 m x 9,6 m, tinggi 5 m, diameter 8,25 m
Luas Lahan
:
32 m x 54 m
Status Pemilikan
:
Pemerintah Kota Pangkalpinang
Status Pengelola
:
-
Batas-Batas
  
Utara
:
Komplek Perumahan PT Timah Bukit Baru
Timur
:
Komplek Perumahan PT Timah Bukit Baru
Selatan
:
Jalan Anggrek
Barat:
Komplek Perumahan PT Timah Bukit Baru
Riwayat Penelitian
:
-
 
 

TUGU PERGERAKAN KEMERDEKAAN





Nama
:
 Tamansari/Wilhemina Park
Jenis
:
 Taman
Periode/Tahun
:
 1913
Keletakan
  
Jalan
:
 Jalan Merdeka No.1
Dusun/Kampung
:
  -
Desa/Kelurahan
:
 Batin Tikal
Kecamatan
:
 Tamansari
Kabupaten/Kota
:
 Kota Pangkalpinang
Provinsi
:
 Kepulauan Bangka Belitung
Letak Astronomis
:
02°07'14" LS - 106°06'45" BT (48 M 0623710 mU - 9765577 mT)


Latar sejarah

       Tamansari atau Wilhelmina Park dirancang oleh arsitek Van Ben Benzenhorn yang dijadikan sebagai fasilitas pendukung dari Rumah Residen, yang terletak di sebelah barat Rumah Residen. Di taman ini dibangun pula tugu berbentuk miniatur Monumen Nasional (Monas) yang ada di Jakarta. Tugu yang diben nama "pergerakan kemerdekaan" ini melambangkan nyala api perjuangan masyarakat Indonesia, khususnya di Bangka dalam memperjuangkan kemerdekaan melawan Belanda. Hal ini terlihat dari prasasti yang tertulis di tugu, yaitu "Surat Kuasa kembalinya Ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta, diserahterimakan oleh lr Soekarno kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX - medio Juni 1949". Menurut Catalan sejarah, Tugu Merdeka Tamansari diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1949 oleh Wakil Presiden Rl Drs. Moch. Hatta.


Deskripsi

       Tamansari atau Wilhelmina Park merupakan fasilitas pendukung dari Rumah Residen, berupa areal luas dengan kontur tanah naik turun, dilengkapi berbagai tanaman dan fasilitas bermain. Saat ini berfungsi sebagai tempat istirahat, olah raga, kesenian, serta konservasi karena ditanami pohon-pohon langka yang nndang sehingga cocok sebagai tempat rekreasi keluarga dan berangin-angin (Zich Onspanen). Dalam taman ini dibangun pula sebuah tugu berbentuk lilin (miniatur Monas di Jakarta) terbuat dari semen. Tugu ditopang oleh bangunan balok segi enam mirip kelopak bunga, terbuat dari semen dan pasir dilapisi pasir kuarsa. Lantai dasar tugu berbentuk segi enam berundak setinggi ± 1,5 meter.

Luas Bangunan
:
-
Luas Lahan
:
3.780 m²
Status Pemilikan
:
Pemerintah Kota Pangkalpinang
Status Pengelola
:
Dinas Tata Kota Pangkalpinang
Batas-Batas
  
Utara
:
Jalan Ican Saleh, Perumahan Penduduk
Timur
:
Rumah Residen
Selatan
:
Jalan Merdeka, Lapangan Merdeka
Barat:
Jalan Merdeka, Kantor KONI
Riwayat Penelitian
:

Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang, 2005

 

GEREJA GPIB MARANATHA

 


Nama
:
 Gereja GPIB Maranatha Pangkalpinang
Jenis
:
 Gereja
Periode/Tahun
:
 1927
Keletakan
  
Jalan
:
 Jalan Jenderal Sudirman No.17
Dusun/Kampung
:
  -
Desa/Kelurahan
:
 Opas Indah
Kecamatan
:
 Tamansari
Kabupaten/Kota
:
 Kota Pangkalpinang
Provinsi
:
 Kepulauan Bangka Belitung
Letak Astronomis
:
 02° 07 14"LS - 106° 06'50" BT (48 M 0623866 mU - 9765566 mT


Latar Sejarah

       Gereja ini awalnya bernama Kerkeraad der Protestansche Gemeente to Pangkalpinang, dibangun pada masa pemerintahan Residen J.E.   Eddie pada tahun 1927, bersamaan dengan pembangunan menara air di Bukit Mangkol. Setelah masa kemerdekaan, melalui Indische Kerk (GPI), nama gereja diubah menjadi Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Maranatha Pangkalpinang. Pemerintah Belanda menempatkan seorang pendeta   peitama kali bernama J.N. Beiger   untuk   melayani   dan   mengurus  jemaat   GPIB   Maranatha Pangkalpinang.


Diskripsi

       Bangunan gereja memiliki ciri yang unik dan menarik karena terdapat menara jam yang besar. Di lingkungan gereja dibangun pula Pastori (rumah pendeta). Bangunan terbuat dari beton dengan atap berbentuk limas, dinding dari bata yang dilapisi batu granit. Dinding bagian depan berbentuk segitiga di atasnya terdapat Salip. Bangunan terdiri dari satu bangunan inti dan dua bangunan pendukung pada bagian kanan dan belakang. Pada bangunan tengah (ruang utama/inti), atapnya terdapat menara yang di atasnya terdapat Salib.
 
Luas Bangunan
:
234 m
Luas Lahan
:
1.567 m²
Status Pemilikan
:
Jema’at GPIB Maranatha Pangkalpinang
Status Pengelola
:
-
Batas-Batas
  
Utara
:
Kantor Polresta Pangkalpinang
Timur
:
Perumahan Penduduk
Selatan
:
Kantor KONI dan PDAM
Barat:
Jalan Jenderal Sudirman
Riwayat Penelitian
:

Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang, 2005

 

MASJID JAMIK

 

 

Nama
:
 Masjid Jamik
Jenis
:
 Masjid
Periode/Tahun
:
 18 Desember 1936
Keletakan
  
Jalan
:
 Jalan Masjid Jamik
Dusun/Kampung
:
  -
Desa/Kelurahan
:
 Masjid Jamikl
Kecamatan
:
 Rangkui
Kabupaten/Kota
:
 Kota Pangkalpinang
Provinsi
:
 Kepulauan Bangka Belitung
Letak Astronomis
:
 02°07'47" LS - 106°06'44" 61 (48 M 0623692 mU - 9764561 mT)

 

Latar Sejarah

       Masjid di bangun pada tanggal 3 Syawal 1355 H atau 18 Desember 1936 M. Bangunan masjid didirikan atas wakaf Pemerintah Kabupaten yang di pelopori ulama karismatik Pulau Bangka K.H. Mas'ud Nur, Penghulu Pangkalpinang dan di bantu oleh enam tokoh agama lainnya. Masjid dibangun oleh masyarakat Kampung Dalam Pangkalpinang yang merupakan masyarakat asli Kampung Dalam Tuatanu yang pindah karena perbedaan paham dan khilafiah. Masjid yang mampu menampung 1.500 orang jamaah ini dalam sejarahnya mengalami tiga kali renovasi.

Deskripsi

        Masjid jami terbuat dari bata. Dinding bawah setinggi 160 cm dilapisi tegel marmer dan bagian selasar lantai tegel kuning, ditopang oleh empat pilar penyangga masing-masing pilar berdiameter 60 cm. Plafon dibawah kubah masjid memiliki bentuk unik dikelilingi lubang-lubang untuk sirkulasi udara. Pada keempat sisi bangunan terdapat pintu dan jendela kayu yang cukup besar, masing-masing jendela/pintu memiliki dua daun pintu/jendela, sehingga sirkulasi udara di dalam masjid cukup baik dan nyaman. Pada bagian depan masjid terdapat menara setinggi 18 meter. Secara keseluruhan, bangunan Masjid Jamik ini masih utuh dan terawat dengan baik.
 
Luas Bangunan
:
36 m x 38 m
Luas Lahan
:
3.441 m
Status Pemilikan
:
Pemerintah Kota Pangkalpinang
Status Pengelola
:
Yayasan Masjid Jamik Kota Pangkalpinang
Batas-Batas
  
Utara
:
Apotik Ani
Timur
:
Jalan Masjid Jamik
Selatan
:
Jalan Kenangan/ H. Abdul Hamid
Barat:
Rumah Bapak Romli
Riwayat Penelitian
:

Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang, 2005

 

GEREJA KATEDRAL SANTO YOSEPH

 

Nama
:
 Gereja Kathedral Santo Yoseph
Jenis
:
 Gereja
Periode/Tahun
:
 1934
Keletakan
  
Jalan
:
 Jalan Gereja No.2
Dusun/Kampung
:
  -
Desa/Kelurahan
:
 Pasar Padi
Kecamatan
:
 Rangkui
Kabupaten/Kota
:
 Kota Pangkalpinang
Provinsi
:
 Kepulauan Bangka Belitung
Letak Astronomis
:
 02°07'38" LS - 106°07'01" BT (48 M 0624226 mU - 976482S mT)

Latar sejarah

       Gereja Kathedral Santo Yoseph yang sekarang ini awalnya dibangun pada tanggal 5 Agustus 1934 dengan nama Pelindung Santo Yoseph pada masa pemerintahan Residen Mann. Saat itu umat katolik berkembang pesat di Pangkalpinang. Bangunan ini kemudian dibongkar dan dibangun kembali di lokasi yang sama. Pada tanggal 25 April 1935  ditasbihkan putra Bangka bernama Johannes Boen Thiam Kiat sebagai Pastor Projo pertama Keuskupan Pangkalpinang sekaligus sebagai Pastor Projo pertama Indonesia . Nama Pastor Boen kemudian diabadikan menjadi Balai Pertemuan Paroki Pangkalpinang dengan nama Balai Mario Jhon Boen.


Deskripsi

       Gereja Kathedral Santo Yoseph merupakan bangunan satu lantai, atap berbentuk limas, di bagian depan bangunan terdapat bangunan tinggi seperti menara.

Luas Bangunan
:
698 m
Luas Lahan
:
4.899 m
Status Pemilikan
:
Jemaat Gereja Kathedral Santo Yoseph
Status Pengelola
:
Paroki Santo Yoseph Pangkalpinang
Batas-Batas
  
Utara
:
Sekolah
Timur
:
Rumah/Toko
Selatan
:
Rumah/Toko
Barat:
Jalan Gereja
Riwayat Penelitian
:

Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang, 2005


 

 

 

Terakhir Diperbaharui : Selasa, 24 Januari 2012 16:29  

Add comment


Security code
Refresh

Baner

Kurs IDR

6-Feb-2012 / 16:27 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9125.00 8875.00
SGD 7315.20 7086.20
HKD 1177.60 1143.40
CHF 9875.35 9574.35
GBP 14389.60 13958.60
AUD 9775.55 9472.55
JPY 119.76 115.26
SEK 1362.10 1312.40
DKK 1613.10 1551.50
CAD 9168.10 8870.10
EUR 11911.30 11548.30
SAR 2442.35 2358.35
sumber: KlikBCA.com