KOTA PANGKALPINANG

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
 
Home Tradisional Asal Usul Asal Usul Peh Cun

Cerita Peh Cun

E-mail Cetak PDF
MAHA KEBENARAN DAN KESETIAAN
JENDERAL DE WEI - MAHA DEWACHII YEN

       Kerajaan Chu di Tiongkok pada masa itu merupakan salah satu dari tiga kerajaan besar jaman peperangan (403 SM - 231 SM) selain Kerajaan Chin dan Chi. Disamping itu masih ada empat negara fcecil lainnya.
       Te Wei Ciang Ciin, Chii Yen, dilahirkan dua ribu tiga ratus empat puluh tahun yang lalu atau, tepatnya tanggal 7 bulan 1 lunar tahun 340 SM di keluarga bangsawan Kerajaan Chu. Nama beliau sebenarnya adalah Phing Yen dan sering dipanggil Ling Ciin.
       Beliau adalah seorang yang sangat arif cerdas, berpendidikan dan berpengetahuan luas dan memahami politik kerajaan dengan jelas. Selain beliau menguasai kemiliteran, beliau juga menguasai kesusastraan, kesusilaan dan kesenian.
       Saat beliau berusia 20 tahun, ketika baru menjadi pejabat selama tiga tahun, beliau langsung mendapat kepercayaan sebagai Penasihat Raja Chu Huai Wang yang memerintah pada tahun 326 SM sampai 299 SM. Secara intern, beliau sering mewakili kerajaan untuk menyambut dan melayani para tamu agung dari kerajaan lain. Selain dipercaya raja, beliau juga amat dicintai rakyatnya.
       Pada masa itu Kerajaan Chin sangat kuat dan sering bertindak semena-mena terhadap kerajaan-kerajaan kecil di wilayah timur dan merupakan ancaman terbesar bagi Kerajaan Chu pada saat itu. Oleh karena itu atas inisiatif Chii Yen negara-negara tersebut pun bekerja sama menggalangkan kekuatan dan mereka pun menunjuk Raja Chu Huai Wang dari Kerajaan Chu sebagai pemimpin untuk memimpin apa yang mereka namakan Aliansi Enam Negara.
       Suatu kali Raja Chu Huai Wang memanggil Chii Yen ke Mahkamah untuk membicarakan masalah pemerintahan dan memerintah Chii Yen untuk menyusun perencanaan persiapan bersama-sama Kerajaan Chi guna melawan Kerajaan Chin. Pembicaraan ini sangat dirahasiakan, tetapi Can Sang seorang pejabat senior yang jahat rupanya mengintip dan mendengar pembicaraan tersebut dan karena merasa sangat iri melihat Chii Yen yang mendapat kepercayaan dari raja, maka suatu hari Can Sang bersama-sama menteri-menteri yang lain yang tidak setia pergi menghadap Raja Huai Wang dan memfitnah Chii Yen telah membocorkan rahasia negara.
       Demikianlah karena fitnahan tersebut Chii Yen pun kehilangan kepercayaan dari raja dan akhirnya oleh Raja Huai Wang beliau pun dipecat dan dibuang di daerah terpencil di Timur, waktu itu usianya baru 29 tahun. Chii Yen benar-benar merasa sangat sedih sekali, di malam yang gerimis dengan hati yang tertekan kesedihan dan kemarahan, beliau menulis syair yang berjudul "Mempertanyakan Surga" yang dalam isinya beliau mengibaratkan dirinya laksana seorang penunggang kuda yang merana karena melihat kudanya tak mau sedikitpun berjalan mengikuti kemauannya.
       Mendengar pemecatan Chii Yen, Raja Chin sangat gembira, maka dengan segera dia lalu mengutus Menteri Gang Yi ke Kerajaan Chu untuk menanamkan perpecahan. Dia menyogok Can Sang dan menteri-menteri jahat lainnya dengan hadiah yang mahal-mahal dan berhasil mempengaruhi Putera Bungsu Raja Chu yang bernama Ce Lan. Bahkan dia juga berhasil memperalat Ceng Siu, selir kesayangan Raja Huai Wang. Dihadapan Raja Chu, Cang Yi mulai memasang siasat bahwa jika Raja Chu mau memutuskan hubungan dengan Kerajaan Chi, maka Kerajaan Chin akan mengembalikan wilayahh Teritorial Shang Yu seluas 600 lie kepada Kerajaan Chu dan Kerajaan Chin selamanya akan mengikat persahabatan dengan kerajaan Chu Sementara Putra Bungsu Raja Chu, Ce Lan bersama pejabat tinggi yang tak setia lainnya yang telah termakan hasutan Gang Yi. Mereka terus memaksa raja untuk menjalin hubungan baik dengan kerajaan Chi. Akhirnya Raja Chu Huai Wang pun bersedia memutuskan kerjasama dengan Kerajaan Chi dan mengutus seorang menteri untuk mengambil wilayah yang telah dijanjikan Gang Yi yang ternyata hanya sebuah tipuan.
Melihat Raja Huai Wang mengkhianti kerjasama dengan mereka maka Raja Chi sangat marah dan mengambil inisiatif untuk melakukan kerjasama lebih dahulu dengan Kerajaan Chin dan merasa di tipu oleh Kerajaan Chin, maka Raja Huai Wang pun menyerang Kerajaan Chin yang sekarang malah didukung oleh Kerajaan Chi, Wei dan Han.
       Pertempuran tidak seimbang karena Kerajaan Chu harus menghadapi banyak musuh sekaligus maka Kerajaan Chu menjadi sangat terdesak. Akhirnya Raja Chu teringat kepada Chii Yen dan memanggilnya pulang untuk menyelamatkan negara.
       Dan tanpa mempedulikan sakit hatinya, Chii Yen yang setia segera membentuk pasukan yang kuat untuk menjaga perbatasan dan pergi menuju Kerajaan Chi. Di sana dia berbicara panjang lebar dengan Raja Chi tentang konsekuensi langsung jika Chi dan Chu tetap berperang Beliau mengibaratkan Chi dan Chu seperti gigi dan bibir, Jika Chu hancur maka Chi pun keamanannya tak akan terjamin. Demikianlah akhirnya Kerajaan Chi pun berdamai dengan Kerajaan Chu. Wei dan Han pun ikut  menarik  pasukannya  kembali.   Aliansi pun kembali terbentuk berkat Chii Yen.
       Setelah bertempur selama 10 tahun Kerajaan Chin masih belum mampu menaklukan Kerajaan Chu, suatu hari Raja Chin membuat siasat untuk pura-pura mengadakan perdamaian dan kerjasama. Untuk itu Raja Chu pun di undang ke Kerajaan Chin. Chii Yen berusaha mencegah tetapi para menteri yang jahat berhasil menghalangi maksud baik Chii Yen. Demikianlah sesampai di Wu Chien, Raja Huai Wang pun ditangkap dan 3 tahun kemudian meninggal di dalam tawanan. Chii Yen benar-benar sangat sedih sekali mendengar junjungannya telah mati di tanah musuh. Dipenuhi kepedihan yang sangat Chii Yen menulis lagu "Bangkitlah Jiwaku" untuk mengenang rajanya.
       Putra Mahkota Heng diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya dengan gelar Raja Ching Siang. Suatu hari Chii Yen menasehati Raja Ching Siang untuk membalas kematian ayahnya dan menganjurkan Can Sang dan kawan-kawannya di beri hukuman. Tetapi bukannya menerima nasihat Chii Yen bahkan raja baru ini malah lebih mendengar hasutan, fitnahan dari Can Sang. Akhirnya Raja Ching Siang pun termakan hasutan dan membuang Chii Yen di daerah Ciang Nan dekat Sungai Mi Luo Danau Tung Ting di Propinsi Hunan. Chii Yen semalaman tidak bisa tidur memikirkan keadaan negerinya, beliau hampir tak kuat lagi. Untunglah beliau memiliki seorang kakak perempuan yang bijak yang bernama Chii Su. Berkat kakaknya inilah akhirnya beliau rela menerima keadaan ini. Walaupun sebagai seorang yang setia kepada negara sekejabpun beliau tak mampu melupakan tanggungjawabnya kepada negara dan leluhurnya.
       Setiap hari selama bertahun-tahun beliau hidup di dalam kesepian dan kesunyian. Beliau hanya menghabiskan waktunya untuk menulis syair Li Sao yang terkenal dan menikmati pemandangan Danau Tung Ting, Bukit Ling Yang, dan menyeberangi Sungai Yuan serta memasuki wilayah barat Hunan sambil terus memendam kerinduan akan kampung halamannya.
       Dalam saat demikian beliau berkenalan dengan seorang pelajar yang mengasingkan diri dan menyamar sebagai nelayan. Nelayan ini hanya menyebutkan dirinya Yi Fu (bapak nelayan). Dengan Yi Fu inilah Chii Yen mendapatkan teman untuk bercakap-cakap. Mereka menjadi sangat akrab.
Dua puluh tahun sudah Chii Yen hidup di dalam pembuangan. Suatu hari pada tahun 278 SM tentara Chin menyerbu Ying, Ibukota Chu. Banyak rakyat mengungsi ke tempat beliau. Saat itu beliau sedang menulis syair, anaknya bersama rombongan pengungsi datang dan memberitahukan bahwa ibukota telah diduduki oleh tentara Kerajaan Chin dan Kuil Leluhur mereka telah dihancurkan dan dibakar. Semalaman Chii Yen menangis penuh kesedihan. Untuk mengekspresi kepiluan hatinya ini beliau menuangkannya di dalam sebuah syair yang berjudul "Tangisan Bagi Ying"
       Pagi itu tanggal 5 bulan 5 tahun lunar 278 SM Chii Yen mengambil jubahnya pergi menuju pinggiran Sungai Mi Luo di Danau Tung Ting dan mendaki sebuah bukit melihat kearah negerinya dari kejauhan dengan air mata berlinang-linang. Hari itu beliau yang telah lanjut usia merasa hidupnya tiada arti lagi.
"Seluruh negeri kacau dan Hanya aku yang merasa senang. Rakyat menderita sementara aku bersembunyi, keadaan ini sungguh tak dapat di biarkan, lebih baik aku mati dan mengubur jasadku di dalam perut ikan" demikianlah yang dipikirkannya. Sungguh beliau merasa resah hingga akhir hayat, dengan memeluk sebuah batu besar beliaupun menerjunkan dirinya ke Sungai Mi Luo dan wafat dengan cara yang amat memilukan.
       Penduduk yang melihat Chii Yen menerjunkan diri ke sungai berusaha menolong. Yi Fu begitu mendengar kabar kematian kawan akrabnya dengan segera mengajak semua penduduk untuk beramai-ramai mendayung perahu mengarungi sungai guna mencari Jasad Suci Chii Yen. Sambil membawa drum dan memukulnya kuat-kuat agar ikan-ikan bisa pergi jauh, seharian mereka tak henti-henti mencari Jasad Suci Chii Yen. Walaupun seharian mereka telah mencari Jasad Suci Chii Yen. tetap saja mereka tak berhasil menemukan Jasad Suci Chii Yen.
       Karena rasa sayang dan hormat yang amat besar dalam diri Yi Fu kepada Chii Yen kawannya, takut Jasad Suci beliau di makan oleh ikan-ikan di dalam sungai maka Yi Fu segera pulang kerumah dan kembali sarnbil membawa sebuah tempurung bambu yang berisi beras yang kemudian dituangkan di sungai. Penghormatan yang demikian besar kemudian ditiru oleh para penduduk. Mereka membungkus beras dengan daun bambu dan dilemparkan ke sungai sebagai makanan ikan, agar ikan-ikan disungai tidak memakan Jasad Suci Chii Yen.
       Pada tahun-tahun berikutya kebiasaan mempersembahkan beras di ganti dengan kue dari ketan beras yang sekarang kita kenal dengan nama Kue Cang atau Bak Gang. Diadakanlah perlombaan-perlombaan Perahu Naga. yang dihiasi dengan Gambar-Gambar Naga (Liong Cun), semuanya mengingatkan kita akan usaha mencari Jasad Suci Chii Yen Sang Pahlawan yang cinta kepada tanah air, berbudi luhur, setia dan berprikebenaran. Yang sekarang kita kenal dengan perayaan festival Peh Cun atau Twan Wu Cie (Twan Yang). Demikianlah setiap tahun Bangsa Tionghoa selalu memperingati hari kematian Chii Yen yang berjiwa mulia dan luhur dengan membuat Kue Gang di setiap rumahnya dan pergi ke pantai untuk membuang sedikit kue tersebut kedalam laut.
       Chii Yen sungguh merupakan pejabat yang mengamalkan kebenaran nurani semasa hidupnya. Beliau sungguh-sungguh menjunjung kesetiaan yang paling tinggi terhadap negaranya, hingga akhirnya sempurnalah kebajikannya dan berhasil mencapai kedewaan di Alam Hawa sebagai MAHA DEWA CHII YEN.
Kini tibalah MASA PENYELAMATAN TRILOKA, masa dimana seluruh roh suci penghuni triloka harus di selamatkan. Oleh Yang Suci Maha Sesepuh Kao Shan Roh Suci Chii Yen pun dilintaskan kembali ke Surga Abadi dan pada Perayaan Festival Twan Wu tanggal 5 bulan 5 lunar tahun 1996 (Tahun Ming Kuo 85) di Maha Vihara Thien En Mi Lek Fo Yuen, Taiwan diadakanlah upacara, pengundangan Roh Suci Chii Yen untuk menulis amanat suci.
Dan atas jasa, kebajikan yang telah beliau lakukan semasa hidup maka TUHAN YANG MAHA ESA dengan penuh welas asih menganugerahkan kedudukan suci sebagai TE WEI CIANG CIIN (JENDERAL TE WEI) kepada beliau.



HARI RAYA TWAN YANG (PEKCUN)

MAKNA HARI RAYA TWAN YANG
       Hari raya Twan Yang adalah hari besar, hari suci bersujud kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Yang telah dilakukan dikalangan umat Kong Hu Cu pada khususnya dan semua orang Tionghoa pada umumnya sejak jaman dahulu. Kita di Indonesia mengenalnya dengan perayaan Wu Yue Wu Hao atau Go Gwee Jee Go atau Ng Ngiat Cho Ng (Ng Ngiat Ciat), karena dilaksanakan tiap bulan 5 tanggal 5 dalam penanggalan Imlek. Twan artinya lurus, terkemuka, terang yang menjadi pokok atau suniber, dan Yang artinya sifat positif atau matahari, jadi Twan Yang ialah saat matahari memancarkan cahaya paling keras atau terang atau juga dinamai Twan Wu atau Twan Ngo karena tepatnya diambil pada saat Wu (Ngo) Si yaitu saat antara jam 11.00 - 13.00 adalah tepat pada saat matahari melewati tegak lurus diatas daerah Tiongkok.
       Orang Tionghoa pada jaman dahulu dan sekarang untuk sebagian punya keyakinan, jika akan mencari obat yang mujarab dari berbagai tumbuh-tumbuhan, air, atau apa saja, mereka akan melakukannya pada hari raya Twan Yang tepat tengah hari, karena pada saat ini segala tumbuh-tumbuhan maupun air dan apa saja mengandung khasiat yang tinggi. Menurut keterangan para ahli obat Tionghoa, pada hari itu hawa bumi dan hawa langit (Yin dan Yang) bertemu (bersatu), hingga sesuatu yang ada di atas bumi tumbuh-tumbuhan maupun air meresap hawa tersebut. Menurut cerita untuk membuktikan hal tersebut pada hari raya Twan Yangpada jam 12.00 siang, (tepat tengah hari) kita ambil, telur ayam atau telur bebek yang masih segar (jangan busuk atau dingin), kemudian perlahan-lahan kita letakkan (dirikan) telur itu pada sisi ujungnya di ubin atau batu yang rata atau diatas meja maka telur-telur itu akan berdiri tegak.
       Hari raya Twan Yang di Indonesia kita lebih mengenal dengan nama Pek Cun yang artinya 100 perahu. Di dalam keluarga orang Tionghoa di Tiong Kok, Hongkong, Singapura, Indonesia, dll, biasanya mereka berkumpul melakukan sembahyang dan makan bak cang atau nyuk cung (Zong Zi: Kue dari ketan dibungkus daun bambu, dicampur daging, di Bangka di bungkus dengan daun Pandan). Ada juga Kue Cang atau Sui Cung yaitu ketan dibungkus daun bambu dimakan dengan air gula.
Di tepi-tepi sungai atau sepanjang pantai, orang berkerumun melihat lomba perahu naga. Ketika genderang berbunyi, orang berlengan kuat mulai beraksi dan meluncurkan .perahu ramping dengan kepala naga. Inilah festival perahu naga dan tokoh yang menyebabkan adanya festival ini adalah Khut Gwan (Qu Yuan).
 
TENTANG KHUT GWAN
       Dinasti Ciu pada jaman Cian Kok atau jarnan peperangan (403 SS - 231 SM) sudah tidak berarti lagi sebagai negara pusat, pada jaman itu ada 7 negara besar, ketujuh negara itu ialah negeri Cee, Yan, Han, Thio, Gwi, dan Chien. Negeri Chien adalah negeri yang paling kuat dan agresif, maka 6 negeri yang lain itu sering bersekutu untuk bersama-sama menghadapi negeri Chien.
       Khut Gwan ialah seorang menteri besar dan setia dari .negeri Cho, beliau seorang tokoh yang paling berhasil menyatukan keenam negeri itu untuk menghadapi negeri Chien. Karena itu orang-orang negeri Chien terus-menerus berusaha menjatuhkan nama baik Khut Gwan, terutama dihadapan raja negeri Cho, Cho Hwai Ong. Di negeri Cho ternyata banyak pula menteri-menteri yang tidak setia seperti Kongcu Lan, Siangkwan Taihu, Khen Siang, dan lain-lain.
       Dengan bantuan orang-orang itu, Tio Gi, seorang menteri negeri Chien yang cerdik dan licin berhasil meretakkan hubungan Khut Gwan   dengan   raja   negeri   Cho.   Khut   Gwan   dipecat   dan berantakanlah persatuan keenam negeri itu Cho Hwai Ong bahkan terbujuk oleh janji-janji yang menyenangkan, mau datang ke negeri Chien.  Disana ia ditawan dan menyssali  perbuatannya sampai mangkatnya. Raja negeri Cho yang baru, Cho Cing Siang Ong, kini memberikan kembali kepercayaan kepada Khut Gwan. Keenam negeri dapat dipersatukan kembali sekalipun tidak sekokoh dahulu.
       Pada jaman 293 SM, negeri Han dan Gwi yang melawari'negeri Chien dihancurkan dan dibinasakan 240.000 orang rakyathya. Oleh peristiwa ini, Khut Gwan kembali difitnah akan membawa negeri  Cho mengalami nasib seperti negeri Han dan Gwi. Cho Cing Siang Ong ternyata lebih buruk kebijaksanaannya dari pada raja yang marhum, ia tidak saja memecat Khut Gwan, bahkan kepadanya dijatuhi hukuman dibuang ke daerah danau Tong Ting, dekat sungai Bik Loo.
       Di tempat pembuangan ini, Khut Gwan hampir-hampir tidak tahan hanya berkat kebijaksanaan kakak perempuannya yang bernama Khut Su, beliau dapat ditentramkan dan rela menerima keadaannya itu. Meski demikian Beliau tidak selalu serasi, maklum Beliau seorang bangsawan negeri Cho, sehingga tidak dapat melupakan tanggung jawab kepada negara dan leluhurnya, karenaitu Khut Gwan sering merasa kesepian dan timbul kejenuhan akan suasana kehidupannya. Dalam saat demikian itu, Beliau beroleh kenalan seorang nelayan, yang ternyata seorang pandai menyembunyikan diri. Orang itu menyembunyikan nama aslinya, hanya menyebut dirinya Gi Hu (Bapak Nelayan). Dengan Gi Hu ini, Khut Guan mendapatkan kawan bercakap meski pandangan hidupnya tidak sejalan. Gi Hu berprinsip meninggalkan hidup bermasyarakat yang buruk keadaannya, sedangkan Khut Gwan biarpun tidak mau tercemar oleh keserakahan dan kekotoran dunia tetapi tetap berharap kembali dapat mengembangkan Jalan Suci Nabi bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat. Demikianlah Khut Gwan sangat akrab dengan nelayan tersebut. Ketentraman Khut Gwan itu ternyata dihancurkan oleh berita hancur binasanya ibukota negeri Cho, tempat Bio leluhurnya itu yang diserbu oleh negeri Chien.
       Hal ini menjadikan Khut Gwan yang telah lanjut usia itu merasa tiada arti lagi hidup pribadinya. Setelah dirundung kebimbangan dan kesedihan, Beliau memutuskan menjadikan dirinya yang telah tua itu biarlah menjadi tugu peringatan bagi rakyatnya akan peristiwa yang sangat menyedihkan atas tanah air dan negerinya itu, semoga bangkit semangat rakyatnya menegakkan kebenaran dan mencuci bersih aib yang menimpa negerinya. Ketika itu kebetulan ialah saat hari suci Twan Yang, Beliau mendayung perahunya ke tengah-tengah sungai Bik Loo, dinyanyikannya sanjak-sanjak ciptaannya yang telah dikenal rakyat sekitamya, yang mencurahkan cinta tanah air dan rakyatnya. Rakyat banyak tertegun mendengar semuanya itu. Pada saat itu Beliau sampai ke tempat yang jauh dari kerumunan orang, Beliau menerjunkan diri ke dalam sungai yang deras alirannya dan dalam. Beberapa orang yang mengetahuinya segera berusaha menolongnya tetapi hasilnya nihil, jenazahnyapun tidak ditemukan. Seharian Gi Hu, nelayan kawan Khut Gwan itu, dengan perahu-perahu kecil mengerahkan kawan-kawannya mencari tetapi hasilnya sia-sia belaka.
       Pada tahun kedua saat Twan Yang, ketika kembali orang merayakan hari suci Twan Yang, Gi Hu telah kembali membawa sebuah tempurung bambu berisi beras dituangkan ke dalam sungai untuk mengenang kembali dan menghormati Khut Gwan. Banyak orang lalu mengikuti jejak Gi Hu itu, demikianlah kematian Khut Gwan tidak sia-sia, telah mampu mengerakkan hati rakyat kepada Cita yang luhur, bahkan telah mengubah sikap Gi Hu yang telah mengingkari duniawi itu. Inilah kemenangan pengorbanan Khut Gwan.
       Pada tahun-tahun berikutnya, kebiasaan mempersembahkan beras ke dalam tempurung bambu diganti dengan kue dari ketan beras yang dibungkus daun bambu, yang disini kita kenal dengan nama Bak Gang dan Kue Gang. Diadakan perlombaan-perlombaan perahu yang dihiasi gambar-gambar naga (Liong Cun), semuanya mengingatkan usaha mencari jenazah Khut Gwan pecinta tanah air, satyawan dan pecinta rakyat itu. Di dalam dirinya tercermin jiwa besar dan suci, yang satya kepada firman Thian, menggemilangkan kebajikan sesama manusia.
       Demikianlah tiap hari raya Twan Yang selalu diadakan pula peringatan untuk Khut Gwan, seorang yang berjiwa mulia dan luhur, berjiwa Kuncu dari negeri Cho itu.


RIWAYAT SINGKAT PEH CUN

       Pada tahun 340 SM di negeri Chu lahirlah seorang anak bangsawan yang oleh orang tuanya diberi nama Qu Yuan.
       Qu Yuan sangat cerdas, dia mengabdi di kerajaan Chu, karena dia sangat pandai dan pintar banyak pejabat yang iri padanya. Suatu saat dia mengusulkan pada raja untuk mengadakan perombakan tata negara dan bergabung dengan negara Qi untuk menahan agresi negara Qin. Oleh pejabat-pejabat yang tidak setia pada negara, menentang habis-habisan usulannya malah dihadapan raja menjelek- jelekkan dia hingga raja terpengaruh dan sangat marah padanya. Akhirnya dia diusir dari istana.
       Setelah keluar dari istana, dia terus berkelana, mengembara ke seluruh pelosok negeri. Dia membuat syair-syair yang menceritakan penderitaan rakyat, mengungkapkan kecintaannya pada rakyat dan negara, sebaliknya membeberkan kebobrokan pejabat-pejabat negara. Syairnya sangat disukai rakyat dan rakyat sangat hormat dan sayang padanya.
       Pada tahun 278 SM, ibukota yang sangat dia cintai, jatuh ke tangan penjajah yaitu kerajaan Qin. Dia sangat sedih, tidak ada lagi yang bisa diperbuatnya, dia putus asa, akhirnya pada hari ke lima bulan ke lima Imlek, dia menceburkan diri ke sungai Miluo.
       Rakyat mengetahui dia tenggelam di sungai Miluo maka mereka beramai-rarnai mencari jasadnya, akan tetapi usaha mereka sia-sia jasadnya tidak ditemukan.
       Untuk memperingati hari wafatnya Sang Penyair, yaitu tanggal 5 bulan 5 Imlek, rakyat beramai-ramai datang ke sungai untukmengadakan ilomba perahu, tujuannya untuk mengusir ikan-ikan di Sungai, jangan sampai memakan jasad Sang Penyair. Mereka juga membuat kue Zong yang terbuat dari ketan dan dalamnya diisi daging. Kemudian dibungkus dengan daun pandan selanjutnya dikukus sampai matang. Kue Zong ini dibuang ke sungai, maksudnya supaya ikan-ikan itu tidak memakan jasad Qu Yuan, tetapi memakan Kue Zong ini. Demikianlah cerita singkat dari Peh Cun ini.
 

Add comment


Security code
Refresh

Baner

Kurs IDR

Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com